Monday, December 5, 2016
MUSIK BARAT
Musik Barat yang berkembang dan populer di indonesia telah banyak mempengaruhi bangsa kita karena penyebarannya secara global, sehingga musik diatonis sering dijadikan media untuk berbagai kepentingan, antara lain; pendidikan, hiburan, politik, agama, kesehatan, dsb. Menyebabkan musik Barat sering mendapat perlakuan/kedudukan yang sangat strategis, bahkan dianggap salah satu media komunikasi yang sangat efektif dalam menyampaikan berbagai pesan secara rasional (walaupun tidak selamanya benar). Selain itu pengaruh musik Barat telah banyak mempengaruhi dan mewarnai berbagai musik di Indonesia, baik musik popular maupun musik daerah. Keberadaan musik tersebut cenderung telah menyatu dengan sebagian masyarakat daerah. Kecenderungan masyarakat kita yang lebih tertarik untuk mempelajari musik Barat namun tidak diimbangi dengan pemahaman terhadap landasan teori yang kuat. sehingga pembelajaran musik di masyarakt kita lebih banyak melibatkan aspek afektif saja, padahal aspek kognitif dan psikomotor juga penting dalam mempelajarai seni musik. Oleh sebab itu agar kesadaran terhadap penguasaan ilmu secara maksimal harus dibangun oleh kesadaran akan pentingnya berbagai unsur yang terjadi pada musik. Penguasaan teori dasar musik harus dijadikan landasan dalam rangka penguasaan ilmu untuk mendampingi pengalaman dalam bemusik, baik untuk pemahaman musik pada umumnya, maupun bagi usaha proses menggarap musik-musik yang bermutu. Penguasaan teori dasar musik (TDM) setidak-tidaknya untuk menyadarkan kita, bahwa kita tahu persis dimana terdapat batasan TDM sebagai salah satu landasan seni bunyi. TDM bukan teoritis, sangat berhubungan dengan musik –”esensinya”- selalu diperhatikansuatu kenyataan bahwa TDM bukan hanya teoritis, melainkan harus diaplikasikan dengan cara merumuskan beberapa landasan teorits yang didasarkan pada seni bunyi. Sehingga teori dapat berperan dalam meningkatkan mutu apresiasi. Bahkan dengan demikian kita juga lebih mampu menggarap karya-karya sendiri baik secara tiruan untuk latihan salah satu gaya lain maupun secara kreatif dan individual.
Notasi balok merupakan istilah umum yang digunakan di masyarakat. Berbagai bentuk dan lambang yang digunakan dalam penulisan tersebut hanya berperan sebagai media dalam bermusik dan pembelajaran musik (membaca karya-karya musik baik dengan vokal maupun instrumen, mempelajari harmoni, komposisi, sejarah musik dsb). terutama di lembaga seperti kursus musik maupun di perguruan tinggi yang membuka program musik.
Penulisan musik diatonis menggunakan notasi balok berdasarkan system diatonis 5 garis di Indonesia pada umumnya lebih banyak mempelajari penulisan untuk karya-karya musik yang muncul hingga abad ke-19 saja. Sedangkan untuk penulisan karya-karya musik kontemporer (istilah untuk karya-karya musik kekinian) kurang dipelajari karena bentuk penulisan untuk karya-karya musik kontemporer cenderung lebih bebas serta individual. Hal tersebut juga berlaku dalam pembelajaran unit ini.
Struktur penggunaan garis lima berdasarkan sistim diatonis memerlukan leading not. Dalam satu tonalitas posisi leading not berada pada nada ke 7 dengan jarak setengah menuju oktaf. Hal tersebut berhubungan dengan musik tonal (lihat pembahasan tonalitas pada unit sebelumnya).
Sistem diatonis memerlukan “leading not”
Sehingga dihasilkan suatu struktur jajaran nada:
Untuk memahami notasi balok ada beberapa hal yang harus kita ketahui :
Lambang penotasian
Berkaitan dengan paranada, letak not pada paranada, nama garis dan spasi dalam berbagai tsaudara kunci.
Bentuk dan nama not serta tsaudara diam
Berbagai bentuk dan nama not serta tsaudara diam, metris berbagai birama, nilai hitungan/ketukan dalam berbagai tsaudara birama, fungsi titik pada setiap not, busur ligatura.
Tsaudara alterasi dan fungsinya,
Interval
Tonalitas mayor dan minor
Akor dalam berbagai posisi serta fungsinya.
Melodi beserta tsaudara ekspresi
Unsur-unsur Musik Barat
Secara umum, terdapat empa tunsur musikBarat, yakni sebagai berikut.
1. Irama dan matra
Irama dalam musik pop atau kontemporer sering disebut style, tradisi, idiom, atau corak (genre ). Dalam musik pop modern, irama mencakup country, folk, waltz, rock ‘n roll, samba, salsa, disko, dan lain-lain. Ia mencakup juga fusi atau peleburan berbagai corak pop seperti country-rock, jazz-rock, dan Latin-disco.
Anda yang bisa memainkan gitar irama tahu bahwa memainkan irama country, misalnya, berbeda dengan memainkan irama salsa. Pola pukulan gitarmu untuk jenis irama pertama berbeda dengan pola pukulanmu untuk jenis irama kedua. Dalam notasi khusus untuk irama gitar, setiap irama ini diperikan dengan pola kombinasi not dengan berbagai nilai tertentu.
Ritme harus dibedakan dengan matra. Secara sederhana, matra adalah pengelompokan ketukan-ketukan dasar yang tetap dari suatu lagu. Dalam musik populer, ia disebut beat, suatu kata bahasa Inggris yang berarti “ketukan” dalam bahasa Indonesia. Jenis-jenis matra membentuk jenis-jenis birama seperti 2/4, 3/4, 4/4, 6/4, 3/8, 6/8, 9/8, dan 12/8. Angka di sebelah kiri garis miring menunjukkan jumlah ketukan per birama; angka di sebelah kanan menunjukkan nilai not dasar yang melandasi berbagai nilai not yang membentuk ritme suatu lagu.
2. Atmosfir
Atmosfir adalah lingkungan di sekitar suatu nyanyian. Atmosfir menjawab pertanyaan: “Anda di mana?” Di suatu pantai tropik atau pegunungan salju; di gereja, di rumah, atau di hotel?
3. Suasana hati
Bagaimanakah perasaan Anda yang tengah menyanyi tentang apa yang Anda katakan pada kami sebagai pendengar? Bahagia, merenung, sedih, damai, tenang, rindu, bercanda, sangat hormat, sepi.
4. Pesan
Apa yang Anda, penyanyi, katakan pada kami sebagai pendengarmu? Apa fakta, sudut-pandang, filsafatmu; tanggapan apakah yang Anda inginkan dari kami?
Secara khusus, terdapat empat unsur musik barat, yakni sebagai berikut.
1. Lirik
Ada beda arti antara pesan dan lirik. Pesan adalah apa yang Anda katakan melalui suatu nyanyian atau lagu; lirik adalah bagaimana Anda menyampaikan pesanmu melalui nyanyianmu.
Lirik mengungkapkan emosi (umum) dan nyanyian – mencakup melodi dan lirik – adalah ungkapan emosional. Lirik bisa terdiri dari bait (verse ) dan koor (chorus ). Bait menunjukkan, koor bercerita. Bait menunjukkan seseorang atau sesuatu melalui bahasa yang spesifik dan menarik; koor bercerita melalui komentar atau ringkasan tentang bait.
2. Melodi
Unsur ini adalah suatu gabungan dari rangkaian tingginada (pitch) dan ritme. Rangkaian tingginada dan ritme ditandai oleh rangkaian not dan tanda-diam dengan bermacam-macam nilai.
3. Harmoni
Harmoni dalam musik Barat adalah salah satu teori musik yang mengajarkan bagaimana menyusun suatu rangkaian akord-akord agar musik tersebut dapat enak didengar dan selaras. Di sini dipelajari tentang penggunaan berbagai nada secara bersama-sama dan akord-akord musik, yang terjadi dengan sesungguhnya ataupun yang tersirat. Studi ini sering merujuk kepada studi tentang progresi harmonis , gerakan dari satu nada secara berbarengan ke nada yang lain, dan prinsip-prinsip struktural yang mengatur progresi tersebut.
Ciri interval bergantung juga pada tangga nada. Contoh-contoh interval berasal dari suatu tangga nada Barat yang sangat lazim dipakai untuk menciptakan lagu: tangga nada diatonik mayor . Urutan notnya dari yang paling rendah ke yang paling tinggi sejauh satu oktaf – delapan nada – adalah do-re-mi-fa-sol-la-si-do. Anda bisa membunyikan urutan not ini dari yang paling rendah ke yang paling tinggi dan sebaliknya.
Karena tangga nada diatonik mayor mengenal dua setengah nada, maka secara ilmu berhitung sederhana jarak nada antara pasangan not lain yang punya satu nada bisa dibagi menjadi dua. Pasangan not do-re, re-mi, fa-sol, sol-la, dan la-si yang masing-masing berisi satu nada sebagai akibatnya dibagi menjadi setengah nada. Timbullah suatu tangga nada baru yang di dalamnya setiap pasangan not tadi diperkecil jaraknya menjadi setengah nada dan menghasilkan jaraknada yang sama antara semua pasangan not yang baru.
Tangga nada baru berdasarkan hasil pembagian satu nada menjadi setengah nada ini disebut tangga nada kromatik . Dari yang paling rendah ke yang paling tinggi, urutan notnya demikian: 1-#1-2-#2-3-4-#4-5-#5-6-#6-7-1. Tanda kres (#) menaikkan not di sebelah kiri kres sejauh setengah nada. Ketika dinyanyikan, not-not yang diberi tanda # berbunyi – dari yang paling rendah ke yang paling tinggi – do-di-re-ri-mi-fa-fi-sol-se-la-li-si-do. Tapi kalau dibunyikan dari not do yang paling tinggi ke yang paling rendah, cara menulisnya berbeda: 1-7-b7-6-b6-5-b5-4-3-b3-2-b-1. Tanda mol (b) menurunkan not di sebelah kiri sejauh setengah nada juga. Urutan not ini dibunyikan sebagai do-si-sa-la-lu-sol-su-fa-mi-mu-re-ru-do.
Secara praktis, bunyi setengah nada pada posisi naik dan turun dari tangga nada kromatik sama: di sama bunyinya dengan ru, ri sama bunyinya dengan mu, fi sama bunyinya dengan su dan seterusnya. Karena sama bunyinya, nada-nada ini disebut nada-nada enharmonik .
Tangga nada diatonik mayor lazimnya dipakai untuk menciptakan lagu-lagu yang bersuasana gembira, ceria, cerah – pendek kata, lagu-lagu yang bersuasana optimistik. Tangga nada kromatik memberi warna-warna halus pada suatu ciptaan musikal. Ada juga lagu-lagu yang, meskipun memakai tangga nada diatonik mayor, bersuasana sedih.
Pola ritme khas suatu melodi dibentuk oleh kombinasi khusus berbagai interval tadi. Dalam musik vokal (gabungan nyanyian dan musik iringan), pola ritme ini dipengaruhi ritme dan makna liriknya. Not-not yang ditahan – misalnya, selama dua sampai dengan empat ketukan alam jenis birama 4/4 (1 . . . ) – cocok untuk menekankan pesan lirik yang penting, seperti judul suatu lagu. Pasangan atau rangkaian not yang bergerak cepat karena memakai satu garis penghubung di atasnya), kombinasi satu dan dua garis penghubung di atas tiga not, atau dua garis penghubung di atas empat not cocok untuk lagu-lagu yang bersifat cakap (conversational ). Pola ritme yang ditandai oleh berbagai garis penghubung not-not bernilai kecil mengungkapkan suasana kegiatan yang membutuhkan energi tinggi seperti kesibukan pekerjaan, kehidupan yang terburu-buru, pertandingan olahraga seperti sepak bola, bahkan keadaan kacaubalau atau perang.
Entah tangga nada diatonik, kromatik, atau minor naturel, melodi yang diciptakan berdasarkan salah satu dari antaranya punya ciri-ciri umum tertentu, yaitu:
Pertama, melodi itu dibentuk oleh suatu gagasan inti yang disebut motif melodi. Ini ibarat tiang utama suatu rumah. Dari tiang utama ini, pencipta – seperti seorang arsitek bangunan – mengembangkan rumah itu dengan menambah tiang lain, kerangka, dinding, atap, penghalusan, pengecatan dinding, penambahan ornamen, dan rincian-rincian konstruksi lain sampai rumah itu tampak keren – sama sekali berbeda dengan kali pertama ia dimulai dengan tiang utama. Padakomposisi melodi Barat, motifnya biasanya ada di awal lagu sebanyak satu sampai sekitar dua birama dan bisa diulang-ulangi – dengan memakai not yang sama atau berbeda – pada bagian lain dalam melodi.
Kedua, suatu melodi diciptakan melalui kombinasi not-not berbagai nilai dengan waktu istirahat tertentu di antara not-not itu. Not yang ditahan selama beberapa ketukan digabung dengan not yang berlangsung selama satu ketukan, setengah ketukan, seperempat ketukan, seperenam belas ketukan, dan seterusnya. Tanda istirahat biasanya muncul padanot yang ditahan yang bisa diikuti tanda koma atau tanda diam. Dalam notasi angka, tanda diam ditulis dengan memakai angka nol (0). Melodi tanpa waktu istirahat akan melelahkan untuk didengar dan dinyanyikan.
Ketiga, suatu melodi diciptakan berdasarkan tangga nada. Tangga nada Barat yang paling lazim dipakai adalah tangga nada diatonik mayor. Karena ada tujuh not pokok dalam tangga nada ini, maka ada juga tujuh kunci atau nada dasar. Kunci ini ditulis dengan memakai abjad. Padanannya dengan not angka demikian: C (do), D (re), E (mi), F( fa), G (sol), A (la), dan B (si). Tangga nada Barat kedua yang lazim dipakai adalah tangga nada minor naturel: A-B-C-D-E-F-G. Kedua jenis tangga nada paling populer ini berdasarkan tangga nada diatonik mayor C.
Keempat, suatu melodi bisa memakai not-not akordal atau gabungan not-not akordal dan non-akordal. Untuk memahami pernyataan ini, kita memakai susunan not akordal dari tiga not – disebut triad – dalam tangga nada C mayor.
4. Ritme
Dalam musik, ritme adalah suatu bagian dari melodi atau lagu. Ia berhubungan dengan distribusi not-not dalam waktu dan tekanan not-not itu. Not-not dalam waktu ini diberi berbagai nilai.
Dalam ketukan 4/4, misalnya, satu not bernilai empat ketukan dibunyikan untuk jangka waktu yang agak lama (misalnya, selama 4 detik) sementara satu not bernilai satu ketukan membutuhkan waktu yang singkat untuk dibunyikan (misalnya, setengah detik). Satu not lain yang bernilai setengah ketukan jelas membutuhkan waktu lebih pendek dari not sebelumnya untuk dimainkan atau dinyanyikan.
Jenis-jenis Musik Barat
1. Metal
Metal adalah sebuah aliran musik rock yang berkembang pada 1960-an. Aliran musik ini mengutamakan gitar yang cukup banyak.Subgenre musik Metal, band Metal (Heavy metal, adalah Led Zeppewlin, Deep Puple dan black Sabbath), ketiga band ini berdir hampir bersamaan, seperti halnya di Indonesia, hampir berbarengan dengan ketiga band tersebut, namun yang membedakan God Bless, telat untuk berkarya, sangat disayangkan bukan..
Trash Metal dan Speed Metal
Band Trash Metal Metal adalah Metallica, Evoulusi dariu Heavy Metal dan Trash Music (Cepat/sampah). setelah penemuan jenis music ini, terjadi revoulusi pendek dan dunia musik, dan Munculnya berbagai macam aliran seperti Dead metal, Black metal darn Membentuk Scene Music DIY (Do it yourself), pada jaman itu banyak sekali scene Punk Bermunculan, dan banyak sekali keribnutan dan keribbutan anrar Komunitas, akhirnya Ian McKaye (Membentuk secene sendiri) dan bermnunculan lah prinsip idealisme msik yang lebih baik, dan muncullah berbagai macam scene mmusik D.I.Y ini, sepertii Death Mettal, Emmotive hardcore, dan lain sebagainya, Hingga membentuk komunitas lain seperti Beat down (hip Hop) yang Juga masih Dibawah Scene D.I.y ini.
Tempo lagu sangat cepat yang diusung oleh gitaris yang memainkan gitar rhytm Downstroke pada Thrash metal oleh band-band seperti Metallica, Megadeth, Slayer dan lainnya. Sedangkan Speed metal dimainkan lebih cepat sangat-sangat cepat dan bertenaga seperti Motörhead, Iron Angel, Anthrax. Sedangkan musik Thrash metal yang berasal dari Eropa adalah seperti, Kreator dan Destruction, keduanya dari negara Jerman.
Death Metal
Underground ini lebih memasuki ke Extreme metal seperti Grindcore dipelopori oleh Napalm Death dan Brutal Truth, berkembang pada 1991 menjadi Death metal Scandinavia oleh Entombed, Dismember, Unleashed, dan At The Gates.
Black Metal
Aliran ini muncul sekitar awal dan pertengahan tahun 1980-an, yang diprakarsai oleh band-band cadas seperti Venom,Hellhammer, Celtic Frost, dan Bathory.
Alternative Metal
Alternative metal adalah salah satu subgenre metal yang paling populer di awal 90’an. ketika popularitas Glam Metal mulai tenggelam akibat kemunculan Grudge pada akhir 80an. Alternative Metal digunakan untuk mendeskripsikan band-band seperti Primus, Rage Against The Machine dan Jane’s Addiction yang mengfusikan Heavy Metal dan Alternative Rock.
Grunge
Tahun 1990-an ketika wabah musik Grunge yang awalnya adalah percampuran kental antara Heavy Metal dan Post-Punk bahkan Hardcore bermunculan di Seattle, walaupun sedikit cenderung ke Alternative rock yaitu, subgenre lain. Band Grunge dari Seattle, seperti Nirvana, Soundgarden, Pearl Jam, dan Alice in Chains.
Folk Metal
Folk Metal adalah fusi Heavy Metal dengan musik folk (musik daerah), aliran ini digawangi oleh band-band sepertik Korpiklaani, Skyclad, Ensiferum, Fiintroll, Turisas dsb.
Melodic Death Metal
Melodic Death Metal sendiri berkembang pesat di Skandinavia, khususnya Gothenburg. Band-band seperti In Flames, At The Gates, Dark Tranquillity, Arch Enemy dan Soilwork.
Deathcore
Deathcore berkembang sebagai turunan dari Death Metal dengan ciri khas lirik yang persis Death Metal, yaitu tentang kematian, neraka, setan, dan nuansa-nuansa mistik. Kebanyakan dari Death Metal adalah orang-orang atheis, sedangkan Deathcore kebanyakan adalah orang-orang agnostik. Deathcore sendiri cenderung bertempo cepat, hampir mirip aliran metal old school yang bersifat hancur-hancuran namun masih ada grip-grip yang melodian.
2 Hip Hop
Hip Hop adalah sebuah gerakan kebudayaan yang mulai tumbuh sekitar tahun 1970’an yang dikembangkan oleh masyarakat Afro-Amerika dan Latin-Amerika. Hip Hop merupakan perpaduan yang sangat dinamis antara elemen-elemen yang terdiri dari MCing (lebih dikenal rapping),DJing, Breakdance, dan Graffiti. Belakangan ini elemen Hip Hop juga diwarnai oleh beatboxing, fashion, bahasa slang, dan gaya hidup lainnya.
Subgenre musik Hip Hop:
Rapcore
Pada sekitar tahun 2000, Linkin Park merilis album dengan genre Rapcore / Rap Rock dengan nama Hybrid Theory dengan lagu In The End sebagai best song-nya.
Electro
Musik yang satu ini memang sedang naik-naiknya di saat ini, dan tidak ada yang tahu bahwa ternyata Electro juga merupakan bagian dari musik Hip Hop.
Miami Bass
Musik ini sangat berkarakter irama bass yang kuat, dan lirik yang sedikit menyinggung tentang seks menjadi bagian dari kelompok yang satu ini.
Hardcore Hip Hop
Pada tahun 1990’an, musik dari New York dan East Coast menjadi musik yang sangat keras dan gelap, sesuai dengan kehidupan yang terjadi disana.
3. Jazz
Jazz adalah aliran musik yang berasal dari Amerika Serikat pada awal abad ke-20 dengan akar-akar dari campuran-campuran musik di Afrika dan Eropa. Ciri-ciri musik jazz yakni vokal dan lirik cenderung dianggap sebagai bagian dari bunyi instrumen, harmoninya rumit, memiliki tonalitas yang luas dan sering terjadi modulasi dan ritme dan melodi memiliki kecenderungan improvisatif. Elemen penting dalam jazz adalah blue notes, improvisasi,polyrhythms, sinkopasi, dan shuffle note.
Alat musik yang digunakan: Gitar – Gitar bass – Saksofon –Trombon – Piano – Klarinet –Terompet – Double bass –Drum – Vokal.
3. Musik Klasik
Musik klasik adalah musik yang diproduksi dalam seni, atau berakar dalam, tradisi musik liturgi Barat dan sekuler. Ciri-cirinya adalah didominasi oleh musik gesek dan tiup, tidak menggunakan beat (drum-set) secara konstan, dan tidak menonjolkan ritme pada melodi dan harmoni. Elemen klasik adalah suatu konsep yang digunakan oleh para filosof kuno untuk menjelaskan terjadinya pola-pola di alam . Fungsi musik klasik adalah meningkatkan kecerdasan majemuk, memfasilitasi ikatan emosional orang tua dan anak anak, membangun ketrampilan sosial dan emosional anak, meningkatkan perlatihan terhadap tugas tugas dan kemampuan bicara, mengembangkan kontrol impulsif dan perkembangan motorik, dan menjembatani keratifitas dan kesenangan.
Alat-alat Musik yang digunakan adalah Harpsichord, Piano, Biola (Violin), Brass, dan Cello / Bass Violin
4. Pop
Musik populer atau Musik pop adalah nama bagi aliran-aliran musik yang didengar luas oleh pendengarnya dan kebanyak bersifat komersial. Musik populer pertama kali berkembang di Amerika Serikat pada tahun 1920 di mana rekaman pertama kali dibuat berdasarkan penemuanThomas Edison, dibedakan dengan Musik Klasik, Musik Jazz, Musik Tradisional, Musik Blues, kemudian juga berkembang ke negara-negara lain sedunia. Musik pop merupakan induk dari segala musik modern.
5. Reggae
Reggae merupakan irama musik yang berkembang di Jamaika. Reggae berdiri di bawah gaya irama yang berkarakter mulut prajurit tunggakan pukulan, dikenal sebagai “skank”, bermain oleh irama gitar, dan pemukul drum bass di atas tiga pukulan masing-masing ukuran, dikenal dengan sebutan “sekali mengeluarkan”. Karakteristik, ini memukul lambat dari reggae pendahuluan, ska dan rocksteady.
Alat yang digunakan drum, bass, guitar, keyboard. Musik ini sebenarnya musik spritualitas agama Rasta Fara di jamaika, dan salah satu nabinya yang kita kenal adalah bob marley.
6. Rock
Musik rock adalah genre musik populer yang mulai diketahui secara umum pada pertengahan tahun 50an. Bunyi khas dari musik rock sering berkisar sekitar gitar listrik atau gitar akustik, dan penggunaan back beat yang sangat kentara pada rhythm section dengan gitar bass dan drum, dan kibor seperti organ, piano atau sejak 70-an, synthesizer. Disamping gitar atau kibor, saksofon dan harmonika bergaya blues kadang digunakan sebagai instrumen musik solo. Dalam bentuk murninya, musik rock mempunyai tiga chords, bakcbeat yang konsisten dan mencolok dan melody yang menarik.
7. Swing
Aliran musik ini termasuk genre musik baru turunan musik jazz. Ciri-ciri yang paling jelas adalah musik swing selalu dinyanyikan dengan nada-nada yang mendayu-dayu. Musik swing juga dinyanyikan dengan sangat santai dan hampir tanpa ekspresi. Lagu yang ber-genre swing contohnya adalah “Trouble is A Friend” yang dinyanyikan Lenka.
Dalam Dunia Musik barat, Munghkin tidfak banya yang menyangka, kalo musik rock sangat amat banyak mempengaruhi musik dunia, tahukah anda band mana yang pertama kali mengusung Rock and roll (Rock),
band rock pertama adalah Tielman Brother, yaitu band dengan personel asli orang indonesia (Kupang Ambon), yang sempat menjadi tentara KNIL, dan Akhirnya pindah ke Belanda.
Mengenal jenis achord
Anda mengenal akor D on F? C on G? A on Cis
Itulah salah satu inversi akor (akor balikan).
Berikut penjelasannya:
Akor paling sederhana disusun oleh tiga nada. Misal akor mayor terdiri dari nada 1 3 5. Entah itu akor C , D, F, Bb, Fis dll, kalau itu akor mayor maka tetap saja disusun oleh nada 1 3 dan 5. Inversi disini maksudnya adalah memainkan akor dimana basnya adalah nada selain nada dasar akor tersebut.
Jika memainkan akor triad maka ada dua inversi, sebut saja inversi satu dan inverse dua.
Kita ambil contoh akor C major. Akor C major dibentuk oleh nada C(do) E(mi) G(sol). Dengan demikian :
inversi satu = E(mi) G(sol) C(do),
inversi dua = G(sol) C(do) E(mi).
Bisa disimpulkan bahwa bas dari akor inversi adalah anggota dari nada pembangun akor selain nada dasar akornya. Jika akor triad memiliki dua akor inversi maka akor empat nada seperti CM7 terdapat 3 akor inversi yaitu dengan bas E, G dan B (CM7=C E G B). Semakin banyak nada penyusun akordnya maka semakin banyak akor tersebut bisa di inversi.
Contoh konkritnya, misal pada lagu Bunda (Melly Goeslow).
Pada kalimat “Ku Buka Album Biru…” akornya adalah C dan G. Untuk akor G ini tidak nyaman jika dimainkan dengan G sebagai basnya, lebih nyaman dengan bas di B, inilah yang disebut inversi, lebih tepatnya inversi pertama (akor G = G(do) B(mi) D(sol)).
Akor inversi ini sering disebut dengan sebutan lain. Misal D on Fis, A on Cis, Sama saja, sebenarnya ini untuk memudahkan dalam berkomunikasi. Dari pada sulit mencari-cari akor D inversi pertama, maka mainkan saja akor D on Fis. Yang penting kita tahu inversi itu apa dan asal muasalnya dari mana, setelah tahu basicnya maka mudah saja untuk mengatakan itu akor apa, terutama bagi orang-orang yang sering tidak peduli dengan nama-nama akor.
Mereka bilang “mau inverse kek, mau modulasi kek, mau in Bb kek, nggak penting, yang penting enak didengar.
Itulah salah satu inversi akor (akor balikan).
Berikut penjelasannya:
Akor paling sederhana disusun oleh tiga nada. Misal akor mayor terdiri dari nada 1 3 5. Entah itu akor C , D, F, Bb, Fis dll, kalau itu akor mayor maka tetap saja disusun oleh nada 1 3 dan 5. Inversi disini maksudnya adalah memainkan akor dimana basnya adalah nada selain nada dasar akor tersebut.
Jika memainkan akor triad maka ada dua inversi, sebut saja inversi satu dan inverse dua.
Kita ambil contoh akor C major. Akor C major dibentuk oleh nada C(do) E(mi) G(sol). Dengan demikian :
inversi satu = E(mi) G(sol) C(do),
inversi dua = G(sol) C(do) E(mi).
Bisa disimpulkan bahwa bas dari akor inversi adalah anggota dari nada pembangun akor selain nada dasar akornya. Jika akor triad memiliki dua akor inversi maka akor empat nada seperti CM7 terdapat 3 akor inversi yaitu dengan bas E, G dan B (CM7=C E G B). Semakin banyak nada penyusun akordnya maka semakin banyak akor tersebut bisa di inversi.
Contoh konkritnya, misal pada lagu Bunda (Melly Goeslow).
Pada kalimat “Ku Buka Album Biru…” akornya adalah C dan G. Untuk akor G ini tidak nyaman jika dimainkan dengan G sebagai basnya, lebih nyaman dengan bas di B, inilah yang disebut inversi, lebih tepatnya inversi pertama (akor G = G(do) B(mi) D(sol)).
Akor inversi ini sering disebut dengan sebutan lain. Misal D on Fis, A on Cis, Sama saja, sebenarnya ini untuk memudahkan dalam berkomunikasi. Dari pada sulit mencari-cari akor D inversi pertama, maka mainkan saja akor D on Fis. Yang penting kita tahu inversi itu apa dan asal muasalnya dari mana, setelah tahu basicnya maka mudah saja untuk mengatakan itu akor apa, terutama bagi orang-orang yang sering tidak peduli dengan nama-nama akor.
Mereka bilang “mau inverse kek, mau modulasi kek, mau in Bb kek, nggak penting, yang penting enak didengar.
Belajar biola secara otodidak
Biola
Biola adalah salah satu alat musik yang memiliki 4 senar atau dawai yang dimainkan dengan cara digesek menggunakan bow (busur). Untuk memainkan alat musik ini, kita harus meletakkan biola diatas pundak dan dijepit menggunakan dagu. Memainkan biola juga menguras tenaga kita karena harus memakai bow untuk menggesek senar. Selain tenaga, memainkan biola juga membutuhkan banyak kesabaran. Memainkan biola harus menggunakan feeling karena tidak memiliki fret (fretless). Berbeda dengan gitar yang memiliki fret jadi cukup mudah untuk menemukan melodi karena tempatnya yang terlihat dan pasti.
Adapun bagian bagian unik dari biola sebagai berikut:
Senar Biola
Biola memiliki senar 4, senar pertama memiliki ukuran atau los senar bernada E, senar kedua A, senar ketiga D, dan senar keempat G. jadi cara setting senar ini sangat berbeda dengan gitar yaa. jangan pernah samakan dengan los senar gitar anda, nanti bisa putus senarnya (pengalaman pribadi hehehe). Harga senar biola cukup mahal berbeda dengan senar gitar. Harga senar biola berkisar antara 50 - 100 untuk pemula bergantung dengan merk.
Bow
Bow atau busur merupakan alat untuk menggesek senar biola. Nah, jadi kalau tidak menggunakan benda ini, biola kita tidak akan berbunyi secara nyaring. Kita bisa memetik senar tanpa bow, bisa tapi tidak sekeras pakai bow. Panjang bow bervariasi bergantung pada ukuran biola yang akan kita mainkan. Bow ini memiliki serat khusus seperti rambut untuk menggesek senarnya bahkan untuk yang professional serat bow ini berasal dari ekor kuda lho. sedikit informasi bahwa serat bow ini jangan disentuh dengan jari atau terkena keringat langsung (nanti seret dan berbunyi ngeeek hehehe).
Ukuran Biola
Biola memiliki ukuran yang berbeda-beda tergantung siapa yang akan main biola. Ukuran biola mulai dari 1/16 hingga 4/4. nah untuk kita yang dewasa bisa pakai yang ukuran 4/4 karena akan lebih nyaman dan lebih panjang sesuai ukuran tubuh dan lengan kita. Panjang lengan kita akan menentukan ukuran mana yang harus kita pilih untuk dimainkan.
Fretless
Biola adalah alat musik fretless atau tanpa fret atau grip. Berbeda dengan gitar yang ada fret jadi mudah untuk melihat pada posisi mana fret yang harus ditekan. Jadi ingat, menggunakan feeling dangat penting. Gunakan perasaan kita adalah kunci utama dalam mencari nada dalam biola. Jadi, banyak banyak bersabar kalau ingin bisa memainkan biola.
Rosin
Rosin atau damar adalah benda berbentuk seperti sabun berwarna bening yang digunakan untuk membuat senar menjadi lebih keset atau tidak licin. Hal ini dimaksudkan agar bow bisa menghasilkan bunyi ketika menggesek senar biola. Cara menggunakan rosin ini cukup mudah. yakni dengan cara menggesek rosin ke hair (rambut) bow secara keseluruhan. Ingat jangan banyak banyak. cukup satu atau dua kali gesek saja.
Biola adalah salah satu alat musik yang memiliki 4 senar atau dawai yang dimainkan dengan cara digesek menggunakan bow (busur). Untuk memainkan alat musik ini, kita harus meletakkan biola diatas pundak dan dijepit menggunakan dagu. Memainkan biola juga menguras tenaga kita karena harus memakai bow untuk menggesek senar. Selain tenaga, memainkan biola juga membutuhkan banyak kesabaran. Memainkan biola harus menggunakan feeling karena tidak memiliki fret (fretless). Berbeda dengan gitar yang memiliki fret jadi cukup mudah untuk menemukan melodi karena tempatnya yang terlihat dan pasti.
Adapun bagian bagian unik dari biola sebagai berikut:
Senar Biola
Biola memiliki senar 4, senar pertama memiliki ukuran atau los senar bernada E, senar kedua A, senar ketiga D, dan senar keempat G. jadi cara setting senar ini sangat berbeda dengan gitar yaa. jangan pernah samakan dengan los senar gitar anda, nanti bisa putus senarnya (pengalaman pribadi hehehe). Harga senar biola cukup mahal berbeda dengan senar gitar. Harga senar biola berkisar antara 50 - 100 untuk pemula bergantung dengan merk.
Bow
Bow atau busur merupakan alat untuk menggesek senar biola. Nah, jadi kalau tidak menggunakan benda ini, biola kita tidak akan berbunyi secara nyaring. Kita bisa memetik senar tanpa bow, bisa tapi tidak sekeras pakai bow. Panjang bow bervariasi bergantung pada ukuran biola yang akan kita mainkan. Bow ini memiliki serat khusus seperti rambut untuk menggesek senarnya bahkan untuk yang professional serat bow ini berasal dari ekor kuda lho. sedikit informasi bahwa serat bow ini jangan disentuh dengan jari atau terkena keringat langsung (nanti seret dan berbunyi ngeeek hehehe).
Ukuran Biola
Biola memiliki ukuran yang berbeda-beda tergantung siapa yang akan main biola. Ukuran biola mulai dari 1/16 hingga 4/4. nah untuk kita yang dewasa bisa pakai yang ukuran 4/4 karena akan lebih nyaman dan lebih panjang sesuai ukuran tubuh dan lengan kita. Panjang lengan kita akan menentukan ukuran mana yang harus kita pilih untuk dimainkan.
Fretless
Biola adalah alat musik fretless atau tanpa fret atau grip. Berbeda dengan gitar yang ada fret jadi mudah untuk melihat pada posisi mana fret yang harus ditekan. Jadi ingat, menggunakan feeling dangat penting. Gunakan perasaan kita adalah kunci utama dalam mencari nada dalam biola. Jadi, banyak banyak bersabar kalau ingin bisa memainkan biola.
Rosin
Rosin atau damar adalah benda berbentuk seperti sabun berwarna bening yang digunakan untuk membuat senar menjadi lebih keset atau tidak licin. Hal ini dimaksudkan agar bow bisa menghasilkan bunyi ketika menggesek senar biola. Cara menggunakan rosin ini cukup mudah. yakni dengan cara menggesek rosin ke hair (rambut) bow secara keseluruhan. Ingat jangan banyak banyak. cukup satu atau dua kali gesek saja.
Sejarah Penemuan Tangga Nada Music
Tangga nada yang kemudian menjadi dasar dari notasi musik ini ternyata ditemukan oleh para ilmuwan Muslim. Fakta penting ini diungkapkan pertama kali oleh Jean Benjamin de La Borde, seorang ilmuwan dan komponis Perancis, dalam bukunya Essai sur la Musique Ancienne et Moderne (1780). Dalam bukunya ini La Borde secara alfabet menyebut notasi musik yang diciptakan oleh sarjana Muslim. Notasi itu terdiri atas silabels (yang kita kenal sebagai solmisasi) dalam abjad Arab, yaitu Mi Fa Shad La Sin Dal Ra. Menurut La Borde, notasi abjad Arab ini kemudian ditransliterasikan oleh ilmuwan Eropa ke dalam bahasa Latin, yang entah bagaimana diklaim sebagai himne St. John.
Transliterasi ini digunakan pertama kali oleh pemusik Italia Guido Arezzo (995-1050) yang terkenal dengan teori Guido’s Hand-nya. Program British Channel 4 yang menayangkan acara sejarah musik mengatakan bahwa Guido-lah pencipta sistem solmisasi, tanpa sedikit pun mengungkapkan fakta temuan oleh ilmuwan Muslim. Namun, La Borde tidak sendirian. Komposer Eropa lain, Guillaume-André Villoteau (1759-1839), mengambil sikap seperti La Borde, yakni mengakui bahwa solmisasi adalah ciptaan orang-orang Islam.
La Borde melakukan penelitian dengan cara membanding-bandingkan antara notasi yang berasal dari Guido’s Hand dengan notasi berabjad Arab. La Borde sampai pada kesimpulan bahwa Guido’s Hand tidak lebih contekan Guido Arezzo dari sistem notasi yang ditemukan oleh sarjana Muslim.
“Secara fisik, tampilan solmisasi berabjad Arab itu berfungsi sebagai model yang ditiru oleh Guido Arezzo,” tulis La Borde. Ia kemudian membuat monograf yang menampilkan perbandingan yang kritis antara model solmisasi temuan ilmuwan Muslim dan solmisasi yang dibuat Guido Arezzo yang kemudian diakui sebagai notasi musik hingga kini.
Notasi Arab digunakan sejak abad ke-9, yaitu ketika ahli-ahli musik Muslim seperti Yunus Alkatib (765) dan Al-Khalil (791), peletak dasar sistem persajakan dan leksikografi Arab, yang diikuti oleh Al-Ma’mun (wafat 833) dan Ishaq Al-Mausili (wafat 850), memperkenalkan sistem notasi dalam bermusik dalam bukunya yang terkenal di Barat, Book of Notes and Rhythms dan Great Book of Songs, selain Kitab Al-Mausiqul Kabir-nya Ibn Al-Farabi (872-950).
Temuan Al-Ma’mun dan Al-Mausili diteliti dan dikembangkan oleh Abu Yusuf bin Ishaq Al-Kindi (801-874), Yahya ibn Ali ibn Yahya (wafat 1048), Ahmad Ibn Muhammad As-Sarakhsi (wafat1286), Mansur Ibn Talha bin Tahir, Thabit ibn Qurra (wafat 1288), dan ilmuwan Muslim lainnya. Dominucus Gundissalinus (wafat 1151) dan The Count Souabe Hermanus Reichenau, dua ahli musik Barat, meneliti dan mengembangkan temuan Al-Kindi. Selain itu, teori-teori musik yang diciptakan Ibnu Sina dan Ibnu Rushd juga berpengaruh pada perkembangan musik Eropa sebagaimana teori-teori mereka dalam ilmu kedokteran.
Sebelum Guido Arezzo mengklaim notasi musik dengan Guido’s Hand-nya, teori musik telah berkembang pesat di Spanyol melalui Ziryab (789-857), pemusik andal dan ahli botani yang hijrah dari Baghdad, dan Ibn Firnas (wafat 888) yang memperkenal musik oriental kepada masyarakat Spanyol dan mengajarkannya untuk pertama kali di sekolah-sekolah di Andalusia.
Soriano, seorang peneliti musik asal Spanyol, mengungkapkan fakta tentang Guido Arezzo. Pemusik yang dianggap sebagai penemu notasi musik itu mempelajari Catalogna, sebuah buku teori musik berbahasa Latin yang memuat temuan-temuan di bidang musik oleh ilmuwan Muslim.
Hunke, peneliti lain, menulis bahwa notasi abjad Arab yang membentuk notasi musik ditulis dalam Catalogna pada abad ke-11 dan diterbitkan di Monte Cassino, sebuah daerah di Italia yang pernah dihuni oleh komunitas Muslim dan tempat yang pernah disinggahi Constantie Afrika, ilmuwan Muslim asal Tunisia yang masuk ke Italia melalui Salerno. Salah satu ilmu yang diajarkan oleh Constantine Afrika kepada orang-orang barbar dan terbelakang di Salerno adalah musik. Semua terjemahan yang dilakukan Constantine Afrika terhadap buku-buku temuan ilmuwan Muslim memang menjadi acuan para pelajar Eropa.
Apalagi, Constantine juga membuka kesempatan kepada mereka untuk belajar ke Spanyol, yang ketika itu sedang diramaikan oleh kuliah musik dengan guru besar para ilmuwan/musikus Muslim seperti Ziryab dan Ibn Farnes. Banyak pelajar lulusan sekolah musik di Spanyol berasal dari Italia, salah satunya adalah Gerbert Aurillac (wafat 1003), yang kemudian dikenal sebagai peletak dasar musik di negara-negara Eropa dan melahirkan banyak pakar musik Barat.
Transliterasi ini digunakan pertama kali oleh pemusik Italia Guido Arezzo (995-1050) yang terkenal dengan teori Guido’s Hand-nya. Program British Channel 4 yang menayangkan acara sejarah musik mengatakan bahwa Guido-lah pencipta sistem solmisasi, tanpa sedikit pun mengungkapkan fakta temuan oleh ilmuwan Muslim. Namun, La Borde tidak sendirian. Komposer Eropa lain, Guillaume-André Villoteau (1759-1839), mengambil sikap seperti La Borde, yakni mengakui bahwa solmisasi adalah ciptaan orang-orang Islam.
La Borde melakukan penelitian dengan cara membanding-bandingkan antara notasi yang berasal dari Guido’s Hand dengan notasi berabjad Arab. La Borde sampai pada kesimpulan bahwa Guido’s Hand tidak lebih contekan Guido Arezzo dari sistem notasi yang ditemukan oleh sarjana Muslim.
“Secara fisik, tampilan solmisasi berabjad Arab itu berfungsi sebagai model yang ditiru oleh Guido Arezzo,” tulis La Borde. Ia kemudian membuat monograf yang menampilkan perbandingan yang kritis antara model solmisasi temuan ilmuwan Muslim dan solmisasi yang dibuat Guido Arezzo yang kemudian diakui sebagai notasi musik hingga kini.
Notasi Arab digunakan sejak abad ke-9, yaitu ketika ahli-ahli musik Muslim seperti Yunus Alkatib (765) dan Al-Khalil (791), peletak dasar sistem persajakan dan leksikografi Arab, yang diikuti oleh Al-Ma’mun (wafat 833) dan Ishaq Al-Mausili (wafat 850), memperkenalkan sistem notasi dalam bermusik dalam bukunya yang terkenal di Barat, Book of Notes and Rhythms dan Great Book of Songs, selain Kitab Al-Mausiqul Kabir-nya Ibn Al-Farabi (872-950).
Temuan Al-Ma’mun dan Al-Mausili diteliti dan dikembangkan oleh Abu Yusuf bin Ishaq Al-Kindi (801-874), Yahya ibn Ali ibn Yahya (wafat 1048), Ahmad Ibn Muhammad As-Sarakhsi (wafat1286), Mansur Ibn Talha bin Tahir, Thabit ibn Qurra (wafat 1288), dan ilmuwan Muslim lainnya. Dominucus Gundissalinus (wafat 1151) dan The Count Souabe Hermanus Reichenau, dua ahli musik Barat, meneliti dan mengembangkan temuan Al-Kindi. Selain itu, teori-teori musik yang diciptakan Ibnu Sina dan Ibnu Rushd juga berpengaruh pada perkembangan musik Eropa sebagaimana teori-teori mereka dalam ilmu kedokteran.
Sebelum Guido Arezzo mengklaim notasi musik dengan Guido’s Hand-nya, teori musik telah berkembang pesat di Spanyol melalui Ziryab (789-857), pemusik andal dan ahli botani yang hijrah dari Baghdad, dan Ibn Firnas (wafat 888) yang memperkenal musik oriental kepada masyarakat Spanyol dan mengajarkannya untuk pertama kali di sekolah-sekolah di Andalusia.
Soriano, seorang peneliti musik asal Spanyol, mengungkapkan fakta tentang Guido Arezzo. Pemusik yang dianggap sebagai penemu notasi musik itu mempelajari Catalogna, sebuah buku teori musik berbahasa Latin yang memuat temuan-temuan di bidang musik oleh ilmuwan Muslim.
Hunke, peneliti lain, menulis bahwa notasi abjad Arab yang membentuk notasi musik ditulis dalam Catalogna pada abad ke-11 dan diterbitkan di Monte Cassino, sebuah daerah di Italia yang pernah dihuni oleh komunitas Muslim dan tempat yang pernah disinggahi Constantie Afrika, ilmuwan Muslim asal Tunisia yang masuk ke Italia melalui Salerno. Salah satu ilmu yang diajarkan oleh Constantine Afrika kepada orang-orang barbar dan terbelakang di Salerno adalah musik. Semua terjemahan yang dilakukan Constantine Afrika terhadap buku-buku temuan ilmuwan Muslim memang menjadi acuan para pelajar Eropa.
Apalagi, Constantine juga membuka kesempatan kepada mereka untuk belajar ke Spanyol, yang ketika itu sedang diramaikan oleh kuliah musik dengan guru besar para ilmuwan/musikus Muslim seperti Ziryab dan Ibn Farnes. Banyak pelajar lulusan sekolah musik di Spanyol berasal dari Italia, salah satunya adalah Gerbert Aurillac (wafat 1003), yang kemudian dikenal sebagai peletak dasar musik di negara-negara Eropa dan melahirkan banyak pakar musik Barat.
Tuesday, November 29, 2016
1 SKALA untuk 7 CHORD progresi Penerapan dan pemahaman MODE
Dulu kita kenal nada dasar mayor dan minor.. C=1 (do) atau A=6 (la)..
Nah dalam sistem Mode ini, ke 7 nada ini bisa dijadikan nada dasar maka muncul istilah D=re (2), E=mi (3), dst.
Keluarga chord dari D=re (2) tentu saja sama dengan keluarga C mayor. Begitupula dengan keluarga E=mi (3)..
Jadi, untuk sementara kita lepaskan dulu pemahaman bahwa musik itu terdiri dari lagu mayor dan minor yg diperoleh dari nada ke 1 dan 6 ini, atau C mayor dan A minor, karena setiap nada ternyata bisa dijadikan nada dasar..
Contohnya, Suasana E=re (2) berbeda dengan suasana E=la (6)..
E=re (2) kita namakan E Dorian, keluarga chordnya adalah D mayor (D Ionian). Sedangkan E=la (6) dinamakan E minor natural atau E aeolian. Keluarga chordnya menginduk pada G mayor ( G ionian)
jadi betul, Jika kita menemukan D=re (2) maka cara menulis notasi baloknya menggunakan C mayor (natural).
Untuk latihan, kita bisa mencoba memainkan gitar dengan nada dasar F=fa (4) atau F Lydian, maka chord progresi yg bisa digunakan adalah menginduk pada C Mayor (C Ionian) yakni bisa seperti ini : // : Fmay7---/G7---/Em7---/Am7--- // Suasana ini akan terasa aneh karena suasananya tidak di C mayor..
Nah, kemungkinan ke depan, jika ada lomba nyanyi atau musik, kita bisa mencantumkan nada dasar menggunakan sistem mode ini, misalnya " Saya akan memabawakan lagu ini dengan nada dasar F Lydian, atau G Dorian, dst... "
Di dalam video ini diperagakan bagaimana berimprovisasi melodi menggunakan 7 mode dengan menggunakan 1 skala (tangganada) C mayor.
Chord progresi yang digunakan
• C=do (1), C Ionian, (C-D-E-F-G-A-B)chord progresi : C-G7-F-G7
• D=re (2), D Dorian (D-E-F-G-A-B-C), Chord Progresi : Dm7-G7
• E=mi (3), E Phrygian(E-F-G-A-B-C-D), chord progresi : Em7-Fmay7
• F=fa (4), F Lydian (F-G-A-B-C-D-E), Chord progresi : Fmay7-G7
• G=sol (5), F Mixolydian (G-A-B-C-D-E-A), Chord progresi : G7-Fmay7
• A=La (6), A Aeolian(A-B-C-D-E-F-G), chord progresi : Am-Fmay7
• B=ti (7), B Lcrian, (B-C-D-E-F-G-A)Chord progresi : Bm7b5-Dm7
Di dalam prakteknya bisa digambungkan dengan skala yg sudah popular yakni skala pentatonik dan blues..
53 mcam rumus triad chord
Mayor : 1-3-5
M7. :1-3-5-7
M9/M7 9 :1-3-5-7-9
M 11. : 1-3-5-7-9-11
M 13., M7(9,13) :1-3-5-7-9-13
M7(9,#11) /M9 #11 : 1-3-5-7-9-#11(12b)
M13 #11 / M7 13 #11: 1-3-5-7-9-#11-13
M6 / Add 6 :1-3-5-6
ADD 9 : 1-3-5-9
6add 9 (6/9) :1-3-5-6-9
M7 b5 :1-3-b5-7
M7 #5 :1-3-#5-7
Minor : 1-b3-5
m7 :1-b3-5-b7
m7 9 : 1-b3-5-b7-9
m11 . : 1-b3-5-b7-9-11-
m13. : 1-b3-5-b7-9-11-13
m6. : 1-b3-5-6
m9. : 1-b3-5-9
m6 add 9 (m6/9) :1-b3-5-6-9
mM7 (m +7) :1-b3-5-7
mM9 . : 1-b3-5-7-9
m7b5. :1-b3-5b-7b
Dominant 7
7: 1-3-5-b7
9 :1-3-5-b7-9
11 :1-3-5-b7-9-11
13 : 1-3-5-b7-9-13
7 sus4 : 1-4-5-b7
7b5 : 1-3-b5-b7
7# 5 : 1-3-#5-b7
7b 9 : 1-3-5-b7-b9
7 # 9 (7 10b) : 1-3-5-b7-b9
7 b5 b 9 : 1-3-b5-b7-b9
7 b5 #9 : 1-3-b5-b7-#9
7#5 b9 : 1-3-5#-b7-b9
7 #5 b9 : 1-3-5#-b7-b9
7 #5 #9 : 1-3-5#-b7-9#
9 b5 : 1-3-b5-b7-#9
9 #5 : 1-3-#5-b7-9
13 #11 :. 1-3-5-b7-9-#11-13
13 b9 :1-3-5-b7-b9-13
11 b9 /7 sus4 b9 : 1-5-b7-b9-11
Augmented :. 1-3-5# (6b)
diminish :. 1-b3-b5
-5 (Mdim ) :1-3-b5
dim 7 : 1-b3-b5-6
powerchord (5) :1-5
Suspended
sus4 :1-4-5
sus 2 : 1-2-5
sus 2 sus 4 :1-2-4-5
Apa itu nada oktaf ??
Tentang
OKTAF
Secara histori istilah oktaf ini muncul dalam peristilahan tangga-nada musik. Jarak dari satu nada ke nada yang sama ( misal DO ke DO berikutnya) disebut satu oktaf ( mengingat ada 8 nada : do re mi fa sol la si do'). Sebenarnya jarak antar-nada mempunyai satuan cent atau sen. Satu oktaf besarnya 1200 sen (cents). Dalam satu oktaf dibagi menjadi 12 interval yang sama ( equal tempered ) yang masing-masing disebut semitone. Satu semitone besarnya 100 sen. ( Lihat posting lainnya yang membicarakan Titi Nada.).
Lalu terjadilah kebiasaan, dan terjadilah satuan oktaf, yang mendefinisikan perbandingan antara dua buah frekuensi. Satu oktaf merupakan perbandingan dua nilai frekuensi sebesar 2 : 1.
Sebagai contoh, frekuensi 20 Hz dengan frekuensi 40 Hz dikatakan berjarak 1 oktaf. Demikian pula, frekuensi 800 Hz dikatakan 1 oktaf di atas frekuensi 400 Hz. Atau frekuensi 220 Hz berada 1 oktaf di bawah 440 Hz.
Secara matematis, hubungan antara dua nilai frekuensi dinyatakan seperti berikut:
FH / FL
= 2N
dengan :
FH - frekuensi atas
FL - frekuensi bawah
N - nilai oktaf antara FH dan FL
Relasi di atas dapat pula diuraikan lebih lanjut dengan operator logaritma LOG :
dengan :
FH - frekuensi atas
FL - frekuensi bawah
N - nilai oktaf antara FH dan FL
Relasi di atas dapat pula diuraikan lebih lanjut dengan operator logaritma LOG :
log ( FH / FL ) = log (2N)
atau
log ( FH / FL ) = N * log (2)
Sehingga dari dua buah frekuensi diperoleh nilai oktaf N
N = log ( FH / FL) / log (2)
Contoh 1 :
Berapa oktaf jarak antara 100 Hz dengan 400 Hz.
Jawaban :
N = log (400/100) / log(2)
= log(4) / log(2)
= 0.602 / 0.301
= 2 oktaf
Contoh 2 :
Berapa oktaf spektrum audio yang berkisar dari 20Hz ~ 20 KHz.
N = log (400/100) / log(2)
= log(4) / log(2)
= 0.602 / 0.301
= 2 oktaf
Contoh 2 :
Berapa oktaf spektrum audio yang berkisar dari 20Hz ~ 20 KHz.
Jawaban
:
N = log(20K/20) / log(2)
= log(1000) / log(2)
= 3 / 0.30
= 10 oktaf
Contoh 3 : Berapakah frekuensi yang berada ½ oktaf di bawah 1680 Hz ?
Jawaban : Tentu bukan sebesar = ½ x 1680 Hz = 840 Hz.
Yang benar adalah,FH / FL = 2N → FL = FH / 2N
FL = 1680 / 2(1/2)
FL = 1680 / 1.414 = 1188 Hz
Nilai Oktaf pada Graphic Equalizer
Graphic Equalizer Audio yang umum kita kenal disebut sebagai Constant Q Graphic Equalizer. Sesuai dengan namanya, pada constan Q G/E maka setiap band frekuensinya memiliki faktor Q yang sama. Penentuan frekuensi-tengah pada sebuah graphic equalizer tidak boleh sembarang, tetapi harus memenuhi pola tertentu sesuai dengan jumlah band yang akan digunakan. Langkah tersebut untuk menghindari agar tidak terjadi interaksi antar band yang tidak teratur atau tidak sistematik.
Pada sebuah constant Q graphic equalizer yang terdiri dari N band, masing-masing band akan menempati bandwidth yang sama nilai oktaf-nya, bukan nilai frekuensi-nya. Spektrum audio yang sebesar 10 oktaf (dari 20 Hz s/d 20 KHz) – akan dibagi dengan jumlah band yang diinginkan. Oleh karena yang sama adalah nilai-oktaf-nya, dengan demikian bandwith (dengan satuan Hz) masing-masing band tidak akan sama. Penjelasan dapat dilihat pada contoh-contoh berikut.
Contoh 4 : Sebuah constant Q graphic-equalizer memiliki spasi 2 oktaf. Equalizer seperti ini dikenal sebagai equalizer 2 oktaf atau equlizer 6 band. Bila frekuensi-tengah (center frequency) band terbawah dipilih sebesar 62.5 Hz, berapakah frekuensi-tengah 5 band berikutnya ?
Jawaban :
FH / FL = 2N → FH = FL x 2N
Karena N = 2
maka FH = FL x 2N2 = FL x 4
Sehingga kita dapatkan frekuensi tengah untuk band lainnya, seperti berikut :
N = log(20K/20) / log(2)
= log(1000) / log(2)
= 3 / 0.30
= 10 oktaf
Contoh 3 : Berapakah frekuensi yang berada ½ oktaf di bawah 1680 Hz ?
Jawaban : Tentu bukan sebesar = ½ x 1680 Hz = 840 Hz.
Yang benar adalah,FH / FL = 2N → FL = FH / 2N
FL = 1680 / 2(1/2)
FL = 1680 / 1.414 = 1188 Hz
Nilai Oktaf pada Graphic Equalizer
Graphic Equalizer Audio yang umum kita kenal disebut sebagai Constant Q Graphic Equalizer. Sesuai dengan namanya, pada constan Q G/E maka setiap band frekuensinya memiliki faktor Q yang sama. Penentuan frekuensi-tengah pada sebuah graphic equalizer tidak boleh sembarang, tetapi harus memenuhi pola tertentu sesuai dengan jumlah band yang akan digunakan. Langkah tersebut untuk menghindari agar tidak terjadi interaksi antar band yang tidak teratur atau tidak sistematik.
Pada sebuah constant Q graphic equalizer yang terdiri dari N band, masing-masing band akan menempati bandwidth yang sama nilai oktaf-nya, bukan nilai frekuensi-nya. Spektrum audio yang sebesar 10 oktaf (dari 20 Hz s/d 20 KHz) – akan dibagi dengan jumlah band yang diinginkan. Oleh karena yang sama adalah nilai-oktaf-nya, dengan demikian bandwith (dengan satuan Hz) masing-masing band tidak akan sama. Penjelasan dapat dilihat pada contoh-contoh berikut.
Contoh 4 : Sebuah constant Q graphic-equalizer memiliki spasi 2 oktaf. Equalizer seperti ini dikenal sebagai equalizer 2 oktaf atau equlizer 6 band. Bila frekuensi-tengah (center frequency) band terbawah dipilih sebesar 62.5 Hz, berapakah frekuensi-tengah 5 band berikutnya ?
Jawaban :
FH / FL = 2N → FH = FL x 2N
Karena N = 2
maka FH = FL x 2N2 = FL x 4
Sehingga kita dapatkan frekuensi tengah untuk band lainnya, seperti berikut :
F1 =
62.5 Hz
F2 = F1 x 4 = 250 Hz
F3 = F2 x 4 = 1000 Hz
F4 = F3 x 4 = 4000 Hz
F5 = F4 x 4 = 8000 Hz
F6 = F5 x 4 = 16000 Hz
Contoh 5 : Spektrum audio ( = 10 oktaf) akan dibagi menjadi 30 band. Berapa oktaf equalizer jenis ini ? Bila frekuensi-tengah dari band ke-20 ditentukan pada frekuensi 3150 Hz, berapakah frekuensi titik-temu antara band ke-19 dengan band ke-20 dan berapakah untuk band ke-20 dengan band ke-21 ?
Jawaban :
Spektrum = 10 oktaf
Jumlah band = 30
Maka equalizer ini ber-oktaf = 10 / 30 = 1/3 oktaf.
atau nilai N = 1/3.
Faktor kelipatan oktaf = 2N = 2(1/3) = 1.26F20 = 3150 Hz,
F2 = F1 x 4 = 250 Hz
F3 = F2 x 4 = 1000 Hz
F4 = F3 x 4 = 4000 Hz
F5 = F4 x 4 = 8000 Hz
F6 = F5 x 4 = 16000 Hz
Contoh 5 : Spektrum audio ( = 10 oktaf) akan dibagi menjadi 30 band. Berapa oktaf equalizer jenis ini ? Bila frekuensi-tengah dari band ke-20 ditentukan pada frekuensi 3150 Hz, berapakah frekuensi titik-temu antara band ke-19 dengan band ke-20 dan berapakah untuk band ke-20 dengan band ke-21 ?
Jawaban :
Spektrum = 10 oktaf
Jumlah band = 30
Maka equalizer ini ber-oktaf = 10 / 30 = 1/3 oktaf.
atau nilai N = 1/3.
Faktor kelipatan oktaf = 2N = 2(1/3) = 1.26F20 = 3150 Hz,
maka :F19 =
F20 / (1.26 ) = 2500 Hz
Titik-temu kedua band tidak pada titik-tengah linier antara 2500 Hz dan 3150 Hz, tetapi pada titik-tengah oktaf antara 2500 Hz dan 3150 Hz.
Karena tiap band menduduki 1/3 oktaf, maka tititk temu tsb berada di 1/6 oktaf (= 1/2 x 1/3 oktaf) di atas 2500 Hz atau 1/6 oktaf di bawah 3150 Hz :
F19 ~ 20 = F19 x 2+(1/6) = 2500 x ( 1.12246 ) = 2806 Hz
atau dapat pula dicari dengan
F19 ~ 20 = F20 x 2-(1/6) = 3150 x ( 0.89090 ) = 2806 Hz
Demikian pula titik-temu F20 ~ 21
F20 ~ 21 = F20 x 2+(1/6) = 3150 x ( 1.12246 ) = 3536 Hz
Dari contoh di atas diperoleh kesimpulan ( matematis ) bahwa frekuensi-tengah antara dua buah frekuensi F1 dan F2 sebesar :
Titik-temu kedua band tidak pada titik-tengah linier antara 2500 Hz dan 3150 Hz, tetapi pada titik-tengah oktaf antara 2500 Hz dan 3150 Hz.
Karena tiap band menduduki 1/3 oktaf, maka tititk temu tsb berada di 1/6 oktaf (= 1/2 x 1/3 oktaf) di atas 2500 Hz atau 1/6 oktaf di bawah 3150 Hz :
F19 ~ 20 = F19 x 2+(1/6) = 2500 x ( 1.12246 ) = 2806 Hz
atau dapat pula dicari dengan
F19 ~ 20 = F20 x 2-(1/6) = 3150 x ( 0.89090 ) = 2806 Hz
Demikian pula titik-temu F20 ~ 21
F20 ~ 21 = F20 x 2+(1/6) = 3150 x ( 1.12246 ) = 3536 Hz
Dari contoh di atas diperoleh kesimpulan ( matematis ) bahwa frekuensi-tengah antara dua buah frekuensi F1 dan F2 sebesar :
Fc
= √( F1 x F2 )
Dari contoh 5 di atas, frekuensi-tengah antara 2500Hz dan 3150Hz dapat dihitung dengan persamaan di atas.
F19 ~ 20 =
√(2500 x 3150) = 2806 Hz.
Demikian pula sebaliknya apabila kedua titik-temu suatu band diketahui maka frekuensi-tengahnya dapat dicari dengan persamaan di atas. Kita lihat pada band ke-20 mempunyai titik-temu atas dan bawah masing-masing 2806 Hz dan 3536 Hz. Dengan persamaan di atas maka frekuensi-tengah band ke-20 sebesar
F20 = √(2806 x 3536) = 3150 Hz.
Faktor Kualitas Q
Faktor Q didefinisikan sebagai perbandingan antara Frekuensi-Tengah terhadap Bandwidth.
Demikian pula sebaliknya apabila kedua titik-temu suatu band diketahui maka frekuensi-tengahnya dapat dicari dengan persamaan di atas. Kita lihat pada band ke-20 mempunyai titik-temu atas dan bawah masing-masing 2806 Hz dan 3536 Hz. Dengan persamaan di atas maka frekuensi-tengah band ke-20 sebesar
F20 = √(2806 x 3536) = 3150 Hz.
Faktor Kualitas Q
Faktor Q didefinisikan sebagai perbandingan antara Frekuensi-Tengah terhadap Bandwidth.
Q = FC / ( FH – FL )
Mengacu pada relasi di atas maka dapat pula dituliskan sebagai :
Q = √ ( FH . FL )( FH – FL )
Umumnya pada graphic-equalizer titik-temu antara dua buah band yang berdekatan masing-masing levelnya dibuat sedemikian rupa sehingga sebesar 0.707 level dari titik-pusatnya, agar menghasilkan respon yang rata.
Slope Rate Sebuah Filter.
// Mengenai filter elektronik, secara khusus akan dibahas dalam artikel lainnya.
// Lihat juga artikel tentang deciBell.
Slope-Rate sebuah filter adalah kemiringan kurva respon ( Voutput v/s Vinput ) pada daerah atenuasi-nya (peredamannya). Untuk high-pass filter (HPF) adalah daerah frekuensi sebelum frekuensi cut-off, sedangkan untuk low-pass filter (LPF) adalah daerah frekuensi sesudah frekuensi cut-off. Pada daerah atenuasi tersebut, Voutput selalu lebih kecil dibanding Vinput, maka disebut daerah peredaman. Semakin jauh sebuah frekuensi dari frekuensi cut-off, akan semakin besar atenuasinya. Laju perubahan atenuasi tersebut dikenal sebagai slope-rate atau laju-kemiringan. Untuk memudahkan identifikasi (klasifikasi) sebuah filter, maka digunakan satuan dB/octave ( atau juga terkadang digunakan dB/decade ) untuk slope-rate.
Slope-rate sebuah filter pada umumnya mengikuti pola-ideal seperti relasi berikut ini :
- filter orde 1
sebanding dengan 1/F1
- filter orde 2
sebanding dengan 1/F2
- filter orde 4
sebanding dengan 1/ F4
- filter orde N
sebanding dengan 1/ FN
Contoh 7 :
Berapakah nilai slope-rate dari filter orde-1, orde-2, orde-3 dan orde-4 dalam satuan dB/oktaf.
Jawaban 7 :
- Kita ketahui bahwa arti 1 oktaf adalah perbandingan frekuensi sebesar 2:1.
- Kita ketahui pula bawa slope-rate filter orde-1 sebanding dengan 1/F.
- Dari dua hal tersebut dapat kita analisa seperti berikut :
FH = 2 x FL
Output Level di FL yaitu VOL = 1/ FL
Output Level di FH yaitu VOH = 1/FH
atau VOH = 1/(2 x FL )
Sehingga :
VOH / VOL = ( 1/(2 FL ) ) / ( 1/ FL ) = 1/2.
Hal ini berarti di
daerah atenuasi sinyal H mengalami atenuasi 2 x atenuasi sinyal L.
Dalam satuan deciBell, perbandingan level tersebut = 20log(1/2) = -6dB.
Dengan demikian diperoleh nilai slope-rate filter orde-1 = -6dB/oktaf.
Tanda minus berarti menurun, atau makin tinggi frekuensi makin kuat redamannya.
Hitung sendiri untuk filter orde-2 dan orde-4, dengan metoda yang sama seperti di atas. [ Hasilnya harus -12 dB/oktaf dan -24 dB/oktaf. ]
Dalam satuan deciBell, perbandingan level tersebut = 20log(1/2) = -6dB.
Dengan demikian diperoleh nilai slope-rate filter orde-1 = -6dB/oktaf.
Tanda minus berarti menurun, atau makin tinggi frekuensi makin kuat redamannya.
Hitung sendiri untuk filter orde-2 dan orde-4, dengan metoda yang sama seperti di atas. [ Hasilnya harus -12 dB/oktaf dan -24 dB/oktaf. ]
Subscribe to:
Posts (Atom)
